Skip to content

Sejarah Kabupaten Blora

April 19, 2010

Menurut cerita rakyat sampai sekarang masih dikenal oleh rakyat Blora pada umumnya, kata Blora berasal dari kata Belor yang artinya Lumpur atau tanah becek, kemudian kata Belor berkembang menjadi Beloran atau Mbeloran juga berarti tanah berlumpur. Lama-kelaman Beloran digunakan unutk memberi nama tempat yang berlumpur tadi yaitu Beloran atau Blora. Tetapi sampai sekarang tidak ada desa di Kabupaten Blora yang namanya menunjukkan ke arah pengertian tersebut.

Berdasarkan cerita tersebut ada dugaan bahwa secara Etimologi (Asal-usul kata), Blora dari Wai + Lorah. Wai berarti air dan Lorah berarti jurang atau tanah rendah. Dalam bahasa Jawa sering terjadi pergantian atau pertukaran huruf W dengan huruf B, tanpa menyebabkan perubahan arti kata. Oleh karena itu kata Wai + Lorah menjadi Bai + Lorah. Maka kata Wai + Lorah menjadi Bailora. Dari Bailora menjadi Blora dan akhirnya menjadi Blora. Jadi nama Blora berarti tanah rendah berair, ini dekat dengan pengertian tanah berlumpur atau tanah becek.

Menurut Buku Khutarama, pengukuhan Pangeran Mangkubumi selaku Sultan Ngayogyakarta pada hari jum’at Legi tanggal 1 Syuro Tahun Alif 1675 ( seribu enam ratus tujuh puluh lima ) Tahun Jawa, atau hari Kamis Kliwon tanggal 11 Desember 1749 Masehi. Bersamaan dengan itu Wilotikto dikukuhkan menjadi Bupati Blora Pertama dengan gelar Tumenggung Wilotikto. Berdasarkan keterangan tersebut ditetapkanlah tanggal 11 Desember 1749 dijadikan berdirinya Kabupaten Blora, seiring berlalunya waktu dengan pepatah jawa “TRUS KAWARNA SABDANING AJI” yang berarti ” PEMERINTAH PIMP{INAN HARUS DILAKSANAKAN “.

Selanjutnya pada 1755 M diadakan perjanjian Giyanti, yang keputusannya Mataram dibagi menjadi 2 bagian, yaitu Kasultanan Jogyakarta dengan Sultan Hamengkubuwono I, serta Surakarta Hadiningrat. Selanjutnya Blora termasuk wilayah Surakarta Hadiningrat. Maka dari itu pakaian yang digunakan pada memperingati hari jadi Kabupaten Blora menggunakan busana adat Surakarta Hadiningrat. Urut-urutan Bupati Blora dari tahun 1749 sampai sekarang sebagai berikut:
1. Tumenggung Wilotikto (1749 – 1755)
2. RT. Jayeng Tirtonoto (1762 – 1782)
3. RT. Prawirayudha (1782 – 1812)
4. RT. Prawirayudha (1812 – 1823)
5. RT. Tirtonegoro (1823 – 1842)
6. RT. Aryo Tjokronagoro (1842 – 1843)
7. RT. Tirtonagoro (1843 – 1847)
8. RT. Panji Noto Nagoro (1847 – 1857)
9. RT. Cokro Nagoro II (1857 – 1886)
10. RMT. Cokro Nagoro III (1886 – 1912)
11. RM. Said Abdul Kadir Jaelani (1912 – 1926)
12. RM. Cakraningrat (1926 – 1938)
13. RM. Muryono Joyodigdo (1939 – 1942)
14. RM. Sujono (1942 – 1945)
15. Mr. Iskandar (1945 – 1948)
16. R. Wibisono (1948 – 1949)
17. R. Siswadi Joyo Surono (1949 1952)
18. R. Soejono (1952 – 1957)
19. R. Sunartyo (1957 – 1960)
20. R. Sukirno Sastrodimejo (1960 -1967)
21. Srinardi (1967 – 1973)
22. Supadi Yudodarmo (1973 – 1979)
23. H. Soemarmo, SH (1979 – 1989)
24. H Soekardi Hardjoprawiro, SE, MBa, MM (1989 – 1999)
25. Ir. H. Basuki Widodo (2000 –
26. Drs. RM. Yudi Sancoyo, MM

source : http://mustiko-budoyo.blogspot.com/2009/10/sejarah-kabupaten-blora.html

From → Uncategorized

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: